Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2016

GORGA SEBAGAI SENI UKIR BATAK TOBA

A. PENDAHULUAN

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beraneka ragam suku, budaya, bahasa dan kaya akan seni. Oleh karena itu setiap suku, ras mempunyai kesenian masing-masing yang memiliki nilai atau ciri khas tertentu sesuai dengan budayaannya.
  Suku Batak Toba merupakan salah satu suku yang kaya akan nilai-nilai seni. Gorga merupakan salah satu seni rupa yang berasal dari suku Batak Toba. Gorga biasanya dilukis atau dipahat pada dinding bagian depan rumah (jabu). Rumah yang sudah diukir dengan gorga disebut ruma gorga. Gorga dilukis atau dipahat oleh orang-orang yang terampil dalam hal itu. Dengan demikian hanya sebagian kecil orang saja yang tahu melukis atau memahat gorga karena cara pengerjaannya termasuk sulit. Setiap gorga mempunyai simbol dan maknanya masing-masing.

B. SEKILAS TENTANG BATAK TOBA

Menurut mitos, orang Batak Toba pertama bertempat tinggal di Pusuk Buhit yang turun dari Benua Ginjang (dunia atas). Mereka mengaku bahwa nenek moyangnya keturunan puteri dewa Batara Guru bernama Si Boru Delek Parajar  yang kawin dengan putera dewa Balabulan bernama Tuan Rumauhir  atau Tuan Rumagorga.

Menurut catatan sejarah, nenek moyang orang Batak Toba berasal dari Hindia Selatan. Mereka masuk ke pedalaman melalui daerah Barus dan Manduamas naik ke daerah Sionomhudon (Pakpak) Perlilitan tembus ke Baniara, Tele, Hariaripintu turun ke Sianjur Mula-mula. Sementara yang lain masuk dari Lobutua, Tukka Holbung, Tukka Dolok, ke Pulogodang (Natam) Pusuk ke Matiti, Pollung dan mengikuti pinggir bagian atas Danau Toba menuju Pusuk Buhit.
Suku Batak Toba mempunyai ciri khas dalam dialek, tulisan atau aksara, istilah-istilah dan beberapa adat istiadat dibandingkan dengan sub suku Batak lainya. Struktur sosial Batak Toba terdiri dari tiga unsur utama yakni: dalihan natolu yang terdiri dari hula- hula (sumber istri), dongan tubu  (saudara semarga), dan boru ( penerima istri ).  Sistem kekerabatan diturunkan dari garis keturunan ayah atau patrilineal.

C. GORGA BATAK TOBA

1. Awal Mula Gorga Batak Toba
Kesenian tidak dapat lepas atau berdiri sendiri dari masyarakat sebab kesenian adalah bagian yang penting dari kebudayaan. Kesenian merupakan ungkapan kreatifitas dari kebudayaan itu sendiri.  Kreatifitas masyarakat ini akan berkembang dan terpelihara karena diteruskan kepada generasi selanjutnya.
Gorga Batak Toba merupakan salah satu contoh karya seni dari kebudayaan Batak Toba yang boleh dikatakan sudah cukup tua. Karya seni ini menjadi salah satu bagian dari karya seni rupa yakni seni ukir tradisional dengan tiga warna khas yang dibuat secara alami. Karya seni dari setiap budaya memiliki sejarah, mitos dan latar belakang mengapa karya seni itu diciptakan dan dipelihara. Demikian juga dengan gorga Batak Toba. Berikut ini adalah sebuah mitos yang menjadi awal mula gorga Batak Toba:
Konon, di suatu masa, tersebutlah seorang datu (dukun)  terhormat. Datu Gambut Nabolon namanya. Dia memiliki seorang istri bernama Siboru Jongjong Anian Siboru Tibal Tudoson. Dalam kehidupan berkeluarga, mereka cukup bahagia, dan sangat mengharapkan supaya keturunannya kelak memiliki keahlian tersendiri setelah dewasa. Hingga suatu saat, mereka diberikan keturunan atas kemurahan Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Besar). Tidak tanggung-tanggung, pada saat Siboru Jongjong Anian Siboru Tibal Tudoson melahirkan untuk pertama kalinya, ia langsung dikaruniai tiga orang anak. Sang Ayah menamai mereka Pustaha Anggir, Lada, dan Napuran. Mereka adalah anak-anak yang pada saat dewasa diharapkan menjadi dukun yang memiliki ilmu pengetahuan mengenai pertukangan. Waktu pun berjalan cepat. Sang Ibu kembali melahirkan untuk kedua kalinya. Kali ini ia dianugerahi keturunan kembar dan memberi mereka nama Sirat dan Uhir. Mereka juga diharapkan memiliki keahlian dalam membuat benang, menenun dan ahli dalam membuat ulos (tenunan khas Batak). Tidak sampai di situ, pada saat berikutnya, Sang Ibu lagi-lagi melahirkan seorang lelaki dan seorang perempuan secara sekaligus, dan menamainya Si Aji Donda Hatahutan dan Siboru Sopak Panaluan. Datu Gambut pun sangat gembira luar biasa, karena telah memiliki keluarga besar yang sangat disayanginya.Falsafah orang Batak zaman dahulu mengatakan "banyak anak banyak rezeki", "anak do hamoraon" (anak adalah martabat dan kebesaran), dan dalam umpama Batak disebut:
Laklak ni sikkoru, nagantung di tiang pintu,
Maranak sampulu tolu, marboru sampulu pitu.
Artinya kira-kira demikian: "Kulit kayu sikkoru, tergantung di tiang pintu, berputra 13, dan berputeri 17". Jadi, berkeluarga besar adalah cita-cita ideal orang Batak. Singkat cerita, anak-anak Datu Gambut Nabolon pun beranjak dewasa. Sang dukun mengerti bahwa tidak mudah menjadikan anak-anaknya menjadi ahli seperti yang dia harapkan. Ternyata anak bungsunya yang laki-laki, yaitu Aji Donda Hatahutan-lah yang lebih paham dan mengerti mengenai perdukunan yang dimaksudkan ayahnya. Bahkan dia menjadi seorang yang ahli dalam segala bentuk pertukangan. Begitu juga dengan anak bungsunya yang perempuan, Siboru Sopak Nauasan, yang menjadi ahli dalam segala jenis tenunan dan membuat ulos. Setelah kedua anak bungsunya itu menjadi orang yang ahli dan hebat dalam berkarya, barulah keturunan Datu Gambut yang pertama dan kedua mengikutinya. Anak anak Datu Gambut Nabolon selalu hidup bersama dengan penuh impian dalam berkarya. Pada suatu hari, di saat Siboru Sopak Nauasan menenun dengan giatnya, tanpa ia sadari, benang tiga warna untuk tenunannya telah terjatuh berpilin-pilin di lantai. Aji Donda Hatahutan tiba-tiba terhipnotis saat melihat benang yang berpilin-pilin tidak teratur itu. Dengan cepat dia mengambil pisau yang tajam dan mengukirnya pada pintu hingga memenuhi dinding rumah mereka. Terkejutlah orang tua dan saudara-saudaranya melihat keadaan itu. Mereka menganggap bahwa Aji Donda Hatahutan telah kerasukan roh halus. Kemudian mereka bermusyawarah, dan dipersiapkanlah lage baion (tikar anyaman dari pandan), cawan berisi air bersih dan asam, dupa kemenyan dan bara api dengan maksud mengusir roh tersebut. Aji Donda Hatahutan disuruh duduk di atas tikar itu. Sang Ayah, Datu Gambut, mulai berdoa kepada Debata Mulajadi Nabolon. Sesaat kemudian mereka mulai bingung, karena kemudian Aji Donda Hatahutan memang benar-benar kemasukan roh. Roh dalam tubuh Aji Donda Hatahutan menyuruh Sang Ayah mengumpulkan ahli kayu bangunan dan membuat sebuah Ruma Bolon (rumah adat Batak). Kemudian Aji Donda Hatahutan yang kemasukan roh mulai mengukir dengan rapi pada Ruma Bolon itu. Sungguh luar biasa, beraneka ragam gorga tampak indah menghiasi bangunan itu dan mereka menyebutnya "Ruma Gorga". Keluarga pun sangat bangga dengan karya Aji Donda Hatahutan tersebut. Sejak saat itu, beberapa pemuda Batak mulai belajar dan menjadi pande (tukang) yang menghasilkan beragam jenis karya baru dan unik. Seorang pande dalam masyarakat Batak selalu mewariskan keahlian seni kepada anak-anak mereka.
2. Jenis Gorga Batak Toba 
Gorga Batak Toba banyak digunakan untuk menghias dingding bangunan rumah adat suku yang disebut ruma bolon (rumah adat). Melalui jenisnya, coraknya ada sesuatu yang hendak disampaikan oleh mereka yang membuatnya.

2.1 Berdasarkan cara  mengerjakan gorga dibagi dalam dua bagian : 
a. Gorga uhir

Gorga ini merupakan jenis gorga yang dikerjakan dengan cara memahat kayu atau papan dan setelah selesai dipahat diberi warna merah, hitam, dan putih.
b. Gorga dais. 
Jenis gorga ini dikerjakan dengan cara melukis pada kayu atau papan dan diwarnai dengan warna merah,hitam,putih. Gorga ini adalah suatu pelengkap pada rumah adat tersebut.

2.2 Berdasarkan Fungsi dan bentuknya.
Gorga Batak Toba memiliki fungsi dan bentuk yang berbeda-beda. Antara lain adalah:
a. Gorga Si Marogung-ogung (Gong)
Pada jaman dahulu ogung (gong) merupakan benda yang sangat berharga. Karena ogung digunakan pada upacara-upacara ritual seperti gondang malim (upacara kesucian).
Rumah yang dihiasi dengan gorga marogung-ogung menandakan bahwa keluarga tersebut  merupakan keluarga yang terpandang dan memiliki seperangkat ogung (gong).
b. Gorga Singa-Singa
Gorga ini berbentuk singa yang di ukir atau diletakkan di sebelah atas tiang kanan dan tiang kiri rumah. Rumah yang memiliki gorga dengan ukiran singa-singa melambangkan bahwa yang menempati rumah itu adalah orang memiliki kekuatan atau orang yang berwibawa seperti raja ni huta (kepala kampung).
c. Gorga Boras Pati dan Adop-Adop

Boras pati adalah gorga yang mirip dengan sejenis cicak yang melambangkan nama dewa alam. Yakni boras pati ni tano (dewa tanah), boras pati ni ruma (dewa rumah), boras pati ni huta (dewa kampung). Masing-masing dianggap sebagai penjaga tanah, rumah, dan kampung.  Sesajian kepada dewa tanah dipersembahkan ketika akan musim tanam. Sesajian untuk dewa rumah ketika akan membangun rumah dan sejian kepada dewa kampung ketika akan mendirikan sebuah perkampungan.
Boras pati jarang memunculkan diri, maka ketika masyarakat dulu melihat boras pati muncul, mereka akan bergembira karena itu tanda-tanda bahwa tanah mereka akan subur dan hasil panen banyak sehingga dapat menjadi kaya. Boras pati dipadukan dengan adop-adop (berbentuk payudara wanita)  yang melambangkan kesuburan. Bagi orang batak susu (tetek) mempunyai makna khusus. Susu (tetek) yang besar yang airnya banyak bahwa ia subur  dalam arti akan memiliki banyak anak yang juga berarti gabe. Maka rumah yang memiliki gorga boras pati dan adop-adop merupakan keluarga yang gabe (subur) dan mora (kaya). Gorga ini terdapat pada dinding depan rumah kiri dan kanan.
d. Gorga Jenggar  atau Ulu Paung

Gorga Jenggar pada dasarnya sama dengan ulu paung. Ukiran ini bermotifkan kepala kerbau. Yang membedakan adalah letaknya. Ulu paung diletakkan di atas atap yang mempunyai fungsi spiritual yakni melindungi rumah dari gangguan begu (hantu) yang mungkin datang ke kampung.  Jenggar diletakkan mulai dari atas pintu sampai ke puncak bangunan. Semuanya berjejer ke bawah ulu paung. Pada mulanya ulu paung dibuat dari tanduk kerbau tetapi pada jaman sekarang diganti dengan ukiran kepala kerbau bertanduk. Fungsi jenggar ini adalah untuk mengawasi hantu halaman rumah (begu alaman) dan hantu yang mungkin dapat menyelinap ke dalam rumah (begu monggop).  Kedua gorga ini dibuat karena jaman dahulu orang Batak masih percaya akan kekuatan-kekuatan ilmu-ilmu hitam atau gangguan begu,maka dibuat sebagai penjaga sehingga rumah dapat ditempati dengan aman dan keluarga menjadi damai.
e. Gorga Dalihan Na tolu.
Gorga ini diukir di bagian dingding depan rumah.  Dalihan na tolu, menjadi dasar kekerabatan kebudayaan Batak Toba (hula-hula, dongan sabutuha, boru). Gorga ini dilukiskan untuk menunjukkan bahwa yang penghuni rumah adalah orang yang memiliki hubungan yang selaras dengan hula-hula (paman), dongan sabutuha (teman semarga) dan boru (pihak perempuan).
f. Gorga Desa Na Ualu (delapan penjuru mata angin)

Ukiran mengambarkan arah mata angin. Sebab sudah sejak dahulu orang Batak mengenal arah mata angin karena mata angin sudah memiliki kaitan yang erat dengan segala aktifitas ritual masyarakat. Sebenarnya pada asalnya desa na ualu, tidak selalu dipakai untuk menunjukkan arah, melainkan sebagai alat peramal yang dinamai dengan parhalaan (kalender ramal) yang digunakan untuk meramal keadaan atau peristiwa yang terjadi atas diri seseorang dalam hubungan dengan waktu.  Misalnya: meramalkan atau memilih hari untuk perkawinan, menanam padi, dan membangun rumah. Jadi parhalaan ini bersifat magis religius. Oleh karena itu sebagai tanda cerminan pentingnya nilai mata angin bagi suku batak dibuatlah dalam bentuk hiasan gorga.
g. Gorga Simataniari
Gorga ini terdapat di sebelah kiri dan kanan. Matahari sebagai lambang terang dan kehidupan.  Gorga ini dibuat untuk mengingat jasa mata hari terhadap dunia. Dengan mengukirkan gorga ini kiranya yang menempati rumah juga dapat memberi kehidupan, terang dan kehangatan bagi orang lain.
h. Gorga Sitagan
Ukiran berbentuk tagan (kotak tertutup yang terbuat dari perak atau emas tempat daun sirih, pinang, gambir, tembakau dan kapur). Bentuknya berjenis-jenis, ada yang bundar, persegi empat, segi enam, dll.  Biasanya motif ini menghias dingding rumah sehingga kelihatan indah.
i. Gorga Sijonggi
Sijonggi adalah nama lembu jantan. Jadi si gorga jonggi memperlihatkan garis-garis hiasan gambar lembu-lembu yang berbaris dengan seekor sijonggi berada di bagian depan.  Lembu merupakan lambang kekayaan.
j. Gorga Silinggom
Linggom artinya teduh, terlindung. Motif ini biasanya diukir pada dinding depan rumah, dengan harapan bahwa sipemilik rumah mendapat perlindungan dari segala marabahaya.
k. Gorga Sitompi
Gorga ini memiliki motif ragam hias yang menggunakan tompi (ketaya/tali leher kerbau atau sapi yang terbuat dari anyaman rotan dan diikat pada bajak atau pedati.  Gorga ini dibuat untuk mengingat jasa tali itu terhadap kerbau dan manusia.
l. Gorga Iran-iran
Iran sejenis alat perias muka supaya kelihatan manis. Hiasan gorga ini biasanya ditempatkan di bagian depan rumah sehingga makin kelihatan keindahannya.
m. Gorga Hoda-hoda
Hoda (kuda) sebagai lambang kekuatan. Motif ini biasanya diukir di dingding bagian samping kiri dan kanan dingding rumah. Hoda juga digunakan untuk berpacu. Maka dengan mengukir gorga hoda-hoda menunjukkan gerakan untuk berlomba mengejar kebahagiaan hidup.
n. Gorga Hariara Sundung di Langit.
Motif ini menyerupai pohon kehidupan, biasanya diukir di bagian dalam rumah pada dingding atas kepala tempat tuan rumah tidur.

3. Warna Gorga Batak Toba

Seni rupa sesungguhnya tidak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah, di mana orang diajak untuk masuk ke dalam dunia batin melalui indera rasa.  Pada saat menikmati suatu karya seni, indera mata menangkap komposisi yang berupa warna, garis dan struktur dari karya seni tersebut. Dengan komposisi ini manusia dapat mengkomunikasikan isi hatinya (impian, khayalan, imajinasi) kepada orang lain.
Gorga sebagai seni rupa memiliki komposisi warna, garis, stuktur dan ada suatu visi atau kepekaan tertentu yang hendak diungkapkan dengan penggunaan bentuk dan warna. Warna dasar gorga adalah narara (merah), nabirong (hitam), dan nabontar (putih) yang disebut juga dengan tolu bolit (belit). Pada jaman dahulu belum ditemukan cat seperti pada jaman sekarang. Nenek moyang orang batak mencipta cat sendiri dengan alamiah.
Narara (merah) : warna ini diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah. Batu inilah yang dihaluskan menjadi seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, kemudian dioleskan ke ukiran yang telah dibuat. Warna merah melambangkan hidup dan kehidupan . Hal ini dapat kita bandingkan dengan darah yang warnanya merah yang melambangkan kehidupan.

Nabirong (hitam) : warna ini diambil dari minyak buah jarak yang dibakar sampai gosong kemudian dihaluskan dan dicampur dengan air. Warna hitam melambangkan kerajaan, dan kewibawaan yang mantap (tongam), yang berbuah pada kepemimpinan.
Nabontar (putih) : warna ini di buat dari tano buro (sejenis tanah liat namun berwarna putih). Tanah itu dihaluskan dan dicampur dengan air. Warna putih melambangkan kepribadian yang tulus dan yang jujur yang berbuah pada kesucian.
Ketiga warna ini juga mengungkapkan makna dalihan na tolu, sebagai dasar kekerabatan batak toba.
Gorga biasanya diukir pada kayu lunak sehingga mudah untuk diukir atau dipahat. Nenek moyang  orang batak memilih kayu ungil. Kayu ini memiliki sifat tertentu antara lain tahan terhadap sinar matahari, terpaan hujan sehingga tidak gampang lapuk ataupun busuk.


4. Nilai-Nilai yang Terkadung dalam Gorga Batak Toba

Berbicara tentang nilai-nilai yang terkandung dalam gorga batak, tidak banyak yang boleh diungkapkan di sini. Hal ini disebabkan oleh kurangnya literatur-literatur yang mendukung. Sebenarnya nilai-milai itu sendiri telah terkandung dalam setiap jenis gorga sebagaimana diungkapkan di atas. Namun meskipun demikian secara umum dapat disebut di sini.
a. Nilai Spiritual dan Religius
Manusia mengalami pergulatan batin untuk bisa berkontak dan berkomunikasi dengan Tuhan. Menurut pengamatan para ahli ilmu jiwa, khususnya Jung ada beberapa lambang purba atau arche-tipe yang menyadarkan manusia akan kehadiran Tuhan, akan kehadiran sesuatu atau seseorang yang Maha Kuasa. Yakni lambang-lambang. Misalnya : matahari, bulan, laut, pohon, dan binatang. Lambang-lambang ini dapat ditemui dalam pengalaman hidup sehari-hari.  Pengalaman religius masyarakat Batak Toba juga tidak lepas dari lambang-lambang. Hal ini tampak pada alat-alat yang digunakan dalam upacara-upacara religius. Misalnya Gong digunakan dalam upacara gondang upacara keagamaan.
Gorga dalam rumah adat memiliki nilai spiritual tersendiri. Itulah sebabnya dalam pembuatan gorga pada awalnya harus berdasarkan panduan seorang dukun, karena dukun dipandang sebagai orang yang baik, dihormati dan senang untuk membantu orang.  Misalnya: Gorga Ulu Paung. Gorga ini bertujuan untuk melindungi rumah dari segala niat-niat jahat atau gangguan setan yang mungkin datang ke kampung. Motif yang digunakan oleh pande gorga (orang yang mengukir) dibuat untuk menghantar masyarakat Batak Toba sampai pada pengalaman religius. Masyarakat Batak Toba yang memiliki mata pencaharian sebagai petani sangat dekat dengan pengaruh alam.  Alam juga menghantar mereka pada pengalaman religius dan spiritual. Karena pada jaman dahulu mereka memiliki kepercayaan pada ritus-ritus yang berhubungan dengan alam. Corak atau motif gorga yang digunakan juga berasal dari pengalaman relegius mereka akan alam semesta.

b. Nilai Estetika
Filasafat eksistensialisme melukiskan bahwa kehidupan manusia tergerak oleh 4 nilai dasar. Salah satunya ialah nilai yang tanpa mengejar suatu keuntungan tetapi hanya melulu karena kenikmatan akan hadirnya suatu objek yakni keindahan.  Menurut Hsieh Ho, salah satu  kaidah pokok seorang pelukis adalah  keselarasan dalam mempergunakan warna-warni.  
Demikian halnya dengan pembuatan gorga ini.
Seorang pengukir gorga dalam masyarakat Batak Toba pada dasarnya membuat gorga bukanlah terutama digerakkan oleh sebuah keuntungan ekonomis/harta tetapi lebih digerakkan oleh keindahan seni itu sendiri.  Sikap ini tampak dalam lekukan-lekukan indah yang  terdapat pada gorga tersebut dan juga keselarasan warna yang digunakan. Semuanya ini membuat orang yang memandangnya merasa kagum, terpesona dan menikmati keindahannya. Itulah juga sebabnya dalam membuat gorga ini dibutuhkan kesabaran dan ketelitian dari si pembuat gorga itu.

D. PENUTUP

Gorga yang dipahat pada rumah adat bukanlah semacam hiasan semata melainkan juga memiliki makna yang diungkapkan lewat bentuk maupun warnanya. Melalui gorga tersebut yakni bentuk, corak dan warnanya kita dapat melihat cerminan hidup orang yang memiliki rumah tersebut atau masyarakat Batak Toba pada umumnya.
Di samping hal-hal itu gorga yang terdapat dalam rumah adat juga bisa diisi dengan kekuatan metafisik dengan tujuan untuk menghalangi gangguan-gangguan roh jahat. Setikap jenis gorga memiliki makna tersendiri sesuai dengan namanya. Maka seorang yang hendak membuat gorga, dia terlebih dahulu memilih jenis yang sesuai dengan kepribadian si pemilik rumah sehingga gorga itu dapat dikatakan cocok.


DAFTAR PUSTAKA

Hartoko, Dick. Manusia dan Seni. Yogyakarta: Kanisius, 1984.

Kayam, Umar. Seni, Tradisi, Masyarakat. Jakarta: Sinar Harapan, 1981.

Malau, Gens G. Budaya Batak. Jakarta: Bina Budaya Nusantara, 2000.

Marbun, M.A. Kamus Budaya Batak Toba. Jakarta: Balai Pustaka, 1987.

Masyarakat dan Kesenian Indonesia. Sinaksak: STFT
St. Yohanes, 2008 (diktat ).

Nababan, T. M. Di Balik Kerumitan Gorga, http://bataktoba. com/ Mula Gorga.htm, 20 April  2011.

Simanjuntak, Morlan. Gorga Batak,  http://tanobatak.wordpress.com.htm, 20 April 2011.

Sitompul, R.H.P. Ulos Batak. Jakarta: Kerabat, 2009.





Kamis, 05 November 2015

MITOS BORU DEANG\ DEAK PARUJAR (KISAH TENTANG TERJADINYA BUMI (KOSMOLOGI)

PENGANTAR
            Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku dan budaya. Setiap suku mempunyai ciri khas tertentu. Sebelum ilmu pengetahuan dikenal, pengenalan akan suku atau budaya tertentu diketahui dari mitos. Setiap daerah pasti mempunyai mitos tersendiri, baik mengenai penciptaan bumi atau penciptaan manusia. Suku Batak Toba juga memiliki mitos-mitos tersebut. Salah satu diantaranya adalah mitos tentang penciptaan bumi.

MITOS BORU DEAK PARUJAR
           
        Si Boru Deak Parujar adalah putri Batara Guru, aspek pertama dari Mulajadi Na Bolon sebagai Trimurti.[1] Di langit, putri itu dikenal sebagai ahli tenun, bergelar Si Partonun Na Utusan (Maha Ahli Tenun). Setelah dewasa, oleh Batara Guru ia dicalonkan menjadi isteri putera Mangalabulan. Karena rupa laki-laki tersebut jelek, Deak Parujar menolak. Penolakan tersebut tercatat sebagai pembangkangan pertama di langit terhadap wibawa sang bapak. Karena Deak Parujar merasa tidak mungkin mematuhi perintah ayahnya, ia memutuskan saja keluar dari langit.
            Jagad raya terdiri dari tiga lapis, yaitu Langit, tempat Deak Parujar, disebut Banua Ginjang (Benua Atas). Di bawahnya adalah Banua Tonga (Benua Tengah) dan terakhir Banua Toru (Benua Bawah). Kedua benua terakhir masih misteri bagi Deak Parujar. Jika keluar meninggalkan langit, berarti Deak Parujar harus berusaha turun ke Banua Tonga. Ketika menenun, Deak Parujar melemparkan turak berisi gelondong benang ke bawah, benangnya terus terjulur menggantung di ruang gelap gulita.
            Deak Parujar lalu meluncurkan diri ke bawah, bergantung pada benang. Setelah beberapa waktu meluncur turun dalam gelap gulita, akhirnya kaki Deak Parujar terantuk pada turak, yang ternyata terombang-ambing di atas permukaan air yang berkelocak dahsyat ditimpa badai dan gelombang besar. Deak Parujar yang ketakutan, sejenak timbul niatnya pulang ke langit, namun ia membulatkan hati dan bertekad tetap bertahan tidak akan pulang. Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) mendengar jeritan Deak Parujar minta tolong. Mulajadi Na Bolon kemudian membujuknya agar pulang, tetapi tidak berhasil. Mulajadi Na Bolon akhirnya mengirim sekepal tanah liat kepada Deak Parujar. Ia memberi petunjuk, “Bentuklah tanah liat ini menjadi landasan tempatmu berpijak di atas samudera”. Deak Parujar merasa lega, lalu mulai menempa sebidang pijakan dari sekepal tanah liat itu, yang lama kelamaan semakin luas.   Deak Parujar sampai harus mengulang tujuh kali menempa tanah pijakanya. Hal ini terjadi karena Raja Padoha, Naga pemikul Jagad Raya, sampai enam kali menggoncangkan jagad raya dengan dahsyat, sehingga setiap kali tempaannya selesai terbentuk, pijakan itu hancur ditelan samudera.
            Ketika pada keenam kalinya tanah tempaan Deak Parujar lebur, ia kembali meminta pertolongan Mulajadi Na Bolon yang kemudian mengirim sebilah keris dan rantai. Dengan keris itu Deak Parujar menikam Naga pemikul jagad raya, namun tidak sampai mati. Deak Parujar kemudian berhasil merantainya, sehingga sang naga tidak leluasa lagi bergerak mengguncangkan jagad raya. Sesudah naga dirantai, Deak Parujar kembali membentuk tanah pijakan. Naga tidak lagi mengganggunya.
            Tanah itu akhirnya berkembang menjadi bumi, tetapi bumi itu masih kosong. Deak Parujar lalu meminta Mulajadi Na Bolon untuk mengirim bibit tanaman dan hewan. Mulajadi Na Bolon meluluskan permintaanya. Bersamaan dengan itu tejadilah perbedaan antara gelap dan terang. Deak Parujar menebarkan bibit tanaman dan menebarkan anak-anak hewan hingga berkembang biak. Bumi yang tadinya kosong sudah berisi dan indah sekali.
            Melihat keindahan itu Deak Parujar bernyanyi dan menari kegirangan, tetapi tiba-tiba merasa kesepian karena tidak memiliki teman. Mulajadi Na Bolon mengamati keadaannya segera memerintah putra Mangalabulan, bekas tunangan yang ditolak oleh Deak Parujar, supaya turun ke bumi untuk bergabung dengan Deak Parujar. Putera langit itu patuh. Ia turun ke bumi menjumpai Deak Parujar.
            Deak Parujar melupakan ketidaksukaanya kepada putra Mangalabulan. Mereka menjadi pasangan suami isteri pertama di bumi. Mereka berdua dan tujuh keturunanya hingga tujuh generasi berikutnya masih tergolong manusia langit, belum menjadi manusia biasa (Jolma). Sebagai manusia langit, Deak Parujar dan suaminya teratur menerima kunjungan Mulajadi Na Bolon, yang dari waktu ke waktu sengaja turun dari langit untuk menemui Deak Parujar dan keturunanya, memberi pedoman hidup dan petunjuk lainya.
            Pada suatu waktu, masa itu pun berakhir. Mulajadi Na Bolon merasa sudah tiba waktunya Deak Parujar kembali ke tempat asalnya, yaitu langit. Mulajadi Na Bolon menentukan tempat kembali Deak Parujar, yaitu di Bulan, bertenun seperti sediakala. Sejak saat itu, Deak Parujar telihat di sana sedang menenun saat bulan purnama. Bumi tempaanya, yang ditenunnya ibarat kain tenunan (ulos) dari bahan kiriman Mulajadi Na Bolon, diwariskan kepada keturunanya bersama seluruh isi alam. Bumi itu berpusat di huta pertama Sianjurmulamula di kaki Pusuk Buhit. Pusuk Buhit sendiri adalah tempat turunya Mulajadi Na Bolon ke bumi. Ketika Deak Parujar lenyap ke bulan, dari situpulalah ia berangkat.
            Setelah Deak Parujar pergi ke bulan, putuslah hubungan langsung antara langit dan bumi. Namun sebelumnya Mulajadi Na Bolon telah berpesan kepada Deak Parujar bahwa keturunanya akan dapat terus berhubungan dengan langit melalui doa-doa dan upacara persembahan. Altar bagi doa-doa dan persembahan itu adalah gunung Pusuk Buhit, sekaligus kiblat (alamat) penghormatan keturunanya kepada roh-roh persemayaman para leluhur.
NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG
-          Nilai Religius
Pada umumnya masyarakat Batak Toba tahu akan kisah penciptaan dunia, atau paling tidak, pernah mendengar Mulajadi Na Bolon atau Pusuk Buhit. Mulajadi Na Bolon adalah dewa yang membantu Deak Parujar yaitu puterinya sendiri dalam penciptaan dunia. Pusuk Buhit adalah gunung suci Batak Toba seperti gunung Olympus pada Yunani, Mahameru di India dan Fuji di Jepang. Sebagai mahkluk religius, manusia membangun tempat ibadat dan menciptakan pelbagai macam liturgi demi perayaan bersama.[2] Sebelum agama masuk ke daerah Batak, masyrakat Batak Toba beribadat di Pusuk Buhit dengan ritus dan tata cara tertentu. Mereka menyembah Mulajadi Na Bolon sebagai Tuhan. Mereka yang melakukan ibadat itu disebut dengan sekte Parmalim. Merekalah yang menamakan diri sebagai keturunan Mulajadi Na Bolon, karena mereka menganut agama yang dianut oleh para leluhurnya.
-          Nilai Filosofis
Menurut mitos, masyarakat Batak Toba pertama berasal dari Pusuk Buhit, yaitu keturunan Deak Parujar. Dalam mitos diatas dikatakan bahwa Deak Parujar dan suaminya putra Mangalabulan teratur menerima kunjungan Mulajadi Na Bolon, yang dari waktu ke waktu sengaja turun dari langit untuk menemui Deak Parujar dan keturunanya, memberi pedoman hidup dan petunjuk lain. Pusuk Buhit merupakan pemisah sekaligus penyambung antara jaman manusia langit (pardiginjang) alias tujuh generasi keturunan Deak Parujar dengan jaman kemanusiaan (hajolmaon) yaitu keturunan Si Raja Batak. Keturunan Si Raja Batak inilah yang mendirikan Sianjurmulamula sebagai bius pertama. Sianjurmulamula merupakan negara mini yaitu hasil ikrar para leluhur yang diwariskan oleh Deak Parujar.[3] Peraturan dan pedoman hidup yang diterima Deak Parujar dari Mulajadi Na Bolon menjadi pedoman hidup bagi keturunan Si Raja Batak.
REFLEKSI KRITIS
   Pada abad XIII, mitos Deak Parujarlah yang menjiwai adat batak (Si Raja Batak).[4] Pada jaman sekarang ini, masyarakat Batak Toba sudah banyak melupakan mitos itu atau bahkan tidak tahu sama sekali. Hal ini bisa saja dipengaruhi oleh budaya dan faktor lain. Suatu kebudayaan memang tidaklah bersifat statis, ia selalu berubah. Tanpa adanya gangguan yang disebabkan oleh masuknya unsur budaya asing, sekalipun suatu kebudayaan dalam masyarakat tertentu pasti akan berubah dengan berlalunya waktu. Dalam setiap kebudayaan selalu ada kebebasan tertentu bagi para individu, dan kebebasan individu memperkenalkan variasi dalam cara-cara berlaku, dan variasi itu yang pada akhirnya dapat menjadi milik bersama dan dengan demikian dikemudian hari menjadi bagian dari kebudayaan.[5] Dengan perubahan ini terjadi juga perubahan pada tata adat Batak sekarang ini, namun konsep untuk membawa perubahan itu sebelumnya berasal dari Deak Parujar.
Pusuk Buhit merupakan tempat persemayaman roh leluhur bersama dan tangga penghubung dengan langit. Upacara dan doa-doa tertuju pada Pusuk Buhit sebagai pusat keagamaan dan politik Batak Toba.[6] Allah Tinggi orang Batak Toba disebut: Mulajadi Na Bolon. Pengertian yang umum terdapat dikalangan orang Batak yakni bahwa, Mulajadi Na Bolon menciptakan segala sesuatu, patut diaplikasikan kepada benua atas tempat Allah Tinggi, dewa-dewa dan para hambanya, kepada benua tengah (banua Tonga), yaitu dunia kita ini, dan kepada benua bawah (banua toru) tempat naga Padoha dan roh-roh jahat kaki tanganya.[7]
Setelah agama Kristen masuk ke daerah Batak, paham akan Mulajadi Na Bolon diganti dengan Allah yang Mahakuasa. Kisah penciptaan pun beralih kepada kisah penciptaan seperti yang ada pada Kitab Suci. Altar penyembahan bukan lagi Pusuk Buhit tetapi di dalam Gereja. Dalam gereja, orang memuji dan memuliakan Tuhan. Orang Batak cepat menyerap agama Kristen karena sudah mempunyai konsep tentang Allah dan penciptaan. Peralihan ini membawa perubahan dalam cara pikir orang Batak seiring dengan waktu, terjadilah peralihan dari mitos ke cara berpikir dan bertindak yang lebih maju hingga akhirnya sampai pada agama. 
PENUTUP
Mitos penciptaan menurut versi Batak, mengandung unsur magis, yaitu adanya rasa takut dan hormat terhadap yang ilahi (Mulajadi Na Bolon) yang hadir dalam kehidupan. Oleh sebab itu, ada hal-hal yang dihormati dan dianggap sakral, seperti Pusuk Buhit. Seiring dengan berjalanya waktu dan kemajuan jaman, orang Batak tidak berhenti sampai disini. Mereka terus mencari yang ilahi yang bertransenden yang ditemukan dalam agama. Agama sebagai titik akhir memberikan penerangan yang lebih jelas dan sempurna. Walaupun demikian mitos akan tetap dikenang sebagai awal pengetahuan untuk berkembang ke pengetahuan yang sebenarnya. (John D)

BUKU REFERENSI
Sinaga, Anicetus. Martutuaek sebagai Permandian Orang Batak Toba. Pematangsiantar: Jalan Medan. 1979.
Situmorang, Sitor. Toba Na Sae. Jakarta: Komunitas Bambu. 2009.






[1] Mulajadi Na Bolon sendiri mencakup tritunggal, yaitu Batara Guru, Soripada dan Mangala bulan.
[2] Adelbert, Snidjer, Manusia Paradoks dan Seruan (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm 67.
[3] Sitor, Situmorang, Toba na Sae (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), hlm 23.
[4] Sitor, Situmorang, Toba na……hlm 98.
[5] T.O. Ihromi, Antropologi Budaya (Jakarta: PT. Gramedia, 1986), hlm 32.
[6] Sitor, Situmorang, Toba na… hlm 32.
[7] A.B. Sinaga,Martutuaek sebagai Permandian Orang Batak (Pematangsiantar: Jalan Medan, 1979), hlm 5.

SEDEKAH MENURUT AGAMA ISLAM

1.PENGANTAR Sedekah merupakan ibadah sosial bagi umat Islam. Sedekah mempunyai kaitan yang erat dengan orang lain. Adapun alasan umat Isl...