Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2016

Retournons A La Nature Menurut Jean Jacques Rousseau

PENGANTAR
Pada abad ke-18 dimulailah suatu jaman baru, yang telah berakar pada Renaissance yang mewujudkan rasionalisme dan empirisme. Abad ke-18 disebut juga sebagai abad pencerahan. Rousseau merupakan seorang tokoh yang memainkan peranan penting dalam pemikiran filsafat pada abad itu. Ia menentang pencerahan yang menyebarluaskan kesenian dan ilmu pengetahuan tanpa adanya penilaian yang baik. Dia lebih menekankan perasaan dan subyektifitas daripada akal. Akan tetapi didalam menghambakan diri kepada perasaan itu akalnya yang tajam dipergunakan. Rousseau menunjuk pada nilai batin dan perasaan serta meninggikan arti kepribadian atau kodrat manusia. Dalam keadaan asali, manusia itu adalah baik, namun kultur dan ilmu pengetahuan telah membusukkan keadaan asalinya. Rousseau menganggap keadaan asali itu sebagai firdaus. Ia menentang kemewahan serta kompleksitas yang terdapat dalam masyarakat dan menekankan bahwa kebahagiaan manusia akan diperoleh dengan kembali kepada keadaan asali yang bersahaja itu.
Pokok-pokok pikiran Rousseau yang terkenal adalah pendidikan, kebudayaan, kontrak sosial, agama dan romantisme. Semua ajarannya ini menekankan satu hal yakni, kembali kepada keadaan asali (back to nature).

 RIWAYAT HIDUP[1]

Jean Jacques Rousseau lahir di Geneva (Jenewa), Swiss tahun 1712 dalam keluarga Perancis Protestan. Ayahnya seorang tukang arloji. Ibunya meninggal dunia sewaktu ia baru lahir. Sewaktu kecil dia seorang Kalvinis. Dia berkenalan dengan seorang tokoh yang sangat mempengaruhi hidupnya yaitu Baronne de Warens yang membuatnya bertobat menjadi Katolik. Dikemudian hari ia berbalik lagi menjadi Kalvinis, sampai akhirnya membuat agamanya sendiri, yakni sebuah campuran deisme dan romantisme yang disebutnya “agama sipil”. Filsuf ini juga berkelana kemana-mana mulai dari kehidupanya di Turin sebagai katolik saleh, lalu ke Paris dan ke Venesia sebagai sekretaris duta besar Perancis. Di Jenewa ia kembali menjadi Kalvinis dan ia berencana melarikan diri ke Berlin dan London karena karya-karyanya yang membuat dia dicurigai dimana-mana. Rousseau mempunyai watak yang tidak stabil, gampang menangis dan mudah curiga. Kisah cinta Rousseau juga unik. Dia bercinta dengan banyak perempuan, antara lain dengan Madame de Warens, seorang yang lebih tua daripada dirinya dan melahirkan anak-anak dari Therese Le Vasseur, seorang perempuan yang tidak begitu cantik dan kurang cerdas. Anak-anaknya dimasukkan semua ke panti asuhan. Rousseau mengunjungi Inggris bersama David Hume, tahun 1766. Tahun-tahun terakhir hidupnya, ia tinggal di Ermenonville (Swis) sampai kematianya tahun 1778.

POKOK-POKOK PIKIRANYA
1. KEBUDAYAAN
Pada kodratnya manusia itu adalah baik. Kejahatan manusia disebabkan oleh kebudayaan yang terbentuk dalam masyarakat karena dengan  kebudayaan manusia membebaskan diri dari keadaan alamiah yang membahagiakan. Rousseau menentang perang antar sesama karena perang adalah bukan bawaan alam tetapi lahir dari kebersamaan dalam masyarakat. Dalam diri manusia ada dua kekuatan yang saling mempengaruhi yaitu kekuatan rohani dan badani.
Rousseau mengatakan bahwa hidup bersama dalam masyarakat sangat perlu sebab manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain (no man is island). Rousseau hanya menginginkan agar manusia  sedapat mungkin memelihara hal-hal alamiah. Sebab jikalau tidak demikian, perang dan berbagai kejahatan lainya akan timbul. Disamping itu penetapan hak milik pribadi dalam masyarakat akan menghilangkan keadaan asali dan sekaligus menimbulkan ketidaksamaan sosial.[2] Hal ini sangat memungkinkan adanya persaingan dan perselisihan yang tidak sehat yang pada akhirnya melahirkan perang.
2. AGAMA
Agama bagi Rousseau adalah urusan setiap pribadi dengan tuhannya masing-masing sesuai dengan apa yang diyakini. Rousseau berbeda dengan para tokoh rasionalisme yang lebih menekankan rasio. Ia mempunyai rasa hormat terhadap misteri dan hati nurani. Ada ungkapan Rousseau tentang hati nurani yang dibicarakanya dengan penuh hormat. Hati nurani, hati nurani, Insting Allah, suara abadi surgawi, pemandu terpercaya bagi makhluk yang kurang pengetahuanya serta terbatas, tetapi berakal serta bebas. Engkaulah hakim yang tidak biasa sesat dalam menilai segala sesuatu, baik yang buruk maupun yang baik, yang menyamakan manusia dengan Allah yang secitra dengan-Nya. Engkaulah yang menghasilkan keunggulan kodratnya dan kesusilaan perbuatanya. Selain itu Rousseau juga tidak percaya bahwa adanya kebakaan jiwa, namun ia tidak mengerti bagaiman hal itu bisa terjadi. Ia tidak dapat membayangkan bahwa jiwa akan mati.[3] Menurut Rousseau dalam beragama yang dibutuhkan adalah kitab alam dan bukan kitab-kitab yang berisi tentang wahyu, sebab wahyu tidak dapat dikenal secara umum. Dari kitab itulah manusia dapat belajar tentang adanya Allah, mencintai dan mengasihi Dia serta karya-karya-Nya. Selain itu manusia juga harus melakukan yang baik sebagai suatu kewajiban di dunia ini demi menyenangkan hati-Nya. Dalam hidupnya Rousseau tidak pernah tanpa agama. Ia menjelaskan agama dengan caranya sendiri. Ia tidak suka mengucapkan doanya dalam ruangan tertutup tetapi lebih senang sembahyang di alam yang penuh pesona.[4] Menurut dia, pembinaan agama dapat diberikan kepada anak-anak yang berusia diatas delapan tahun. Pembinaan agama mempunyai metodenya sendiri dan bukan dengan cara menghapal.
3. PENDIDIKAN
Sistem pendidikan yang otoritatif, disiplin ketat, mekanis dan menuntut kepatuhan luar biasa dari siswa tidak disetujui olah Rousseau.[5] Dalam pendidikan tidak ada terdapat istilah penguasa yang memberi perintah dan yang harus dihormati. Pendidikan merupakan hal mendasar dalam membentuk kepribadian manusia. Pendidikan harus membebaskan anak-anak dari pengaruh kebudayaan. Pendidikan harus memberi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan segala kebaikan yang ada pada dirinya. Tugas para pendidik sebenarnya adalah meninggalkan kebiasaan yang telah berlaku sebelumnya yakni dengan otoritatif dan disiplin yang sangat ketat. Seorang pendidik harus memegang prinsip bahwa segala sesuatu yang merupakan kecondongan kodrati, itulah yang paling benar. Pendidik tidak boleh bertolak pada dirinya sendiri, namun sebaliknya bertolak dari kodrat si anak atau anak didik. Seorang pendidik hendaknya memberi kebebasan kepada si anak agar biasa mandiri dan tidak perlu berbuat banyak. Pendidik hanya bertindak sebagai pengamat dan sekaligus pengoreksi atas diri si anak. Cara terbaik untuk mencapai kemajuan si anak adalah membiasakan dia untuk menghendaki segala-galanya menjadi miliknya.[6] Anak didik harus dibiarkan untuk bersenang-senang dan tidak bisa diganggu dengan ajaran moral, karena mereka belum siap untuk itu. Anak harus dipersiapkan secara benar untuk siap menghadapi masa yang akan datang, sebab pada dirinya ada gudang potensi yang harus dikembangkan. Selanjutnya tugas pendidik adalah mengarahkan si anak agar dapat mengenali potensinya dan dapat menggunakanya secara efektif. Oleh karena itu, pribadi si anak harus dibentuk melalui sensasi dan perasaan dan bukan melalui kata-kata dan abstraksi.[7] Naluri-naluri alamiah dan rasa cinta yang ada pada diri si anak harus dikembangkan dan tidak boleh dibendung agar si anak benar-benar berkembang dan mengenali potensi yang ada pada diri mereka.
4. SOSIAL
Ajaran Rousseau tentang kontrak sosial adalah mengharapkan suatu susunan yang bebas, bahagia dan manusiawi dan berdasar pada asas-asas kodrati manusia bukan dengan rasio melainkan dengan kehendak dan perasaan. Dengan ini Rousseau bertujuan agar manusia menjadi tuan atas dirinya sendiri, bebas seperti keadaan asali. Kembali kepada keadaan asali sangat ditekankanya agar masyarakat atau manusia tetap berada dalam keadaan asali itu sendiri. Kebaikan-kebaikan yang sudah ada dalam keadaan alamiah harus dipelihara agar persekutuan, kebebasan dan kesamaan yang dinikmati orang pada jaman alamiah tetap terjaga. Pada keadaan alamiah orang tidak terikat pada sesamanya ataupun kepada barang tertentu.[8]
Dengan adanya suatu persekutuan , maka terbentuklah suatu negara. Dalam negara kehendak personal harus tunduk kepada kehendak umum atau dengan kata lain, kewajiban harus didahulukan baru dituntut hak pribadi. Undang-undang harus ditentukan dan disahkan oleh masyarakat. Selain undang-undang, pendapat atau kehendak umum adalah suatu cara terbaik dalam menentukan suatu keputusan sebab tidak diragukan lagi kebenaranya. Dengan demikian negara yang didirikan itu dapat mempertahankan kebebasan bersama. Rousseau adalah seorang pendukung kedaulatan rakyat dan sistem demokrasi.[9] Sebab dengan demokrasi semua warga negara ambil bagian dan keputusan bersama adalah kesimpulan umum yang tidak bisa lagi diganggu gugat.
5. ROMANTISME 
 Rousseau dikenal sebagai seorang Bapak romantisme. Romantisme merupakan suatu tantangan baru bagi rasionalisme. Romantisme lebih menonjolkan perasaan,sentimen, nafsu, kesederhanaan, kemurnian ,alam dan suara hati. Dalam ajaranya Rousseau hanya bertitik tolak pada suatu pandangan dasar, yaitu bahwa alam murni itu baik dan indah, sehingga segala sesuatu yang dekat dengan alam murni, baik dan indah adanya.[10] Aliran ini merupakan suatu pukulan besar bagi para filsuf yang menekankan rasio. Bukunya Du Contract Social menggambarkan semangat kembali ke alam pedesaaan yang asri, dengan meninggalkan perkotaan, perdagangan, industri, uang dan kemewahan.

REFLEKSI KRITIS ATAS AJARAN  J. J. ROUSSEAU


Rousseau merupakan filsuf yang sangat terkenal di Perancis. Semboyanya back to nature membawa suatu terobosan baru tentang pokok-pokok yang dibicarakan para filsuf termasuk mengenai budaya, manusia, kontrak sosial, negara dan lain-lain. Pokok pikiran Rousseau ada yang diterima menjadi suatu tatanan baru dan ada juga yang menimbulkan reaksi para filsuf yang lain.
Kontrak sosial sangat dibutuhkan dalam pendirian negara. Ia menghendaki bentuk negara, dimana kekuasaanya ada ditangan rakyat atau demokrasi mutlak. Hal ini bertentangan dengan John Locke yang membagi kekuasaan negara kedalam tiga bentuk (trias politika). Menurut Rousseau badan legislatif (The Legislator) sama sekali tidak memiliki kekuasaan memerintah orang. Kekuasaan legislatif harus ada ditangan rakyat dan kekuasaan eksekutif dan federatif harus berdasar pada kemauan bersama. Rousseau juga tidak membenarkan adanya persekutuan termasuk partai yang menurutnya hanya berakhir pada penyelewengan. Selain itu, ia juga mengusulkan agar negara jangan terlalu besar atau terlalu kecil, cukup sebesar polis seperti pada jaman Yunani kuno. Pendapat ini juga bertentangan dengan John Locke yang membutuhkan negara sebagai badan pengawas, karena negara yang dibayangkanya luas dan besar. Menurut Rousseau, negara yang demikian akan mempengaruhi terwujudnya pemerintahan yang diktator dan totaliter.
Keadaan asali akan membuat manusia hidup damai. Segala sesuatu merupakan milik bersama dan tidak ada yang berniat untuk mencari suatu kekuasaan. Hal ini sangat bertentangan dengan Hobbes yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki keinginan yang sangat untuk memiliki kekuasaan demi kekuasaan, dan keinginanya hanya akan diberhentikan oleh ajal. Jika setiap anggota masyarakat mempunyai prisip demikian, maka cenderung akan timbul perang, perselisihan dan kekerasan, sebab masing-masing akan mempertahankan kekuasaanya. Rousseau tidak setuju dalam hal demikian. Perang dan perselisihan tidak akan terjadi jika segala sesuatu dikehendaki bersama dan bukan tergantung pada pribadi tertentu.
Pemikiranya tentang negara sangat aneh. Ia menolak protestan dalam negaranya, karena protestan mementingkan isolasi diri dan berpotensi memecah belah negara. Hal ini akan menimbulkan pertentangan dalam negaranya, sebab pada jamanya protestan sedang berkembang. Dalam bidang pendidikan, pendapatnya menduduki tempat penting karena ia melontarkan sebuah kritik bukan atas dogmatisme religius dan metafisika tadisional, melainkan atas apa yang diyakini sebagai kemajuan pada saat itu.

PENUTUP
Kodrat manusia menurut Rousseau pada dasarnya adalah baik. Ia mengatakan bahwa segalanya adalah baik ketika keluar dari tangan Sang Pencipta dan segalanya menjadi buruk ketika sampai ditangan manusia. Dalam hal ini, ia mengkritik institusi-institusi kultural yang cenderung membusukkan kodrat manusia. Dengan mengikuti gagasan-gagasan Rousseau, kita menemukan sebuah gerak balik dari pencerahan. Dalam hal ini pemikiran Rousseau memiliki kedudukan yang penting dalam sejarah filsafat modern sejak kemajuan ilmiah terjadi di Barat. Demikianlah Rousseau melontarkan pemikiran-pemikiranya atas kemajuan yang terjadi pada saat itu.
           
           










DAFTAR PUSTAKA

Edwards, Paul (ed.).. The Encyclopedia of Philosophy, vol. 7 dan 8. USA: Macmilan Inc, 1967

Hamersma, Harry.  Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta: PT. Gramedia, 1983

Hardiman, F. Budi. Filsafat Moderen dari Machiavelli Sampai Nietzsche: Suatu Pengantar dengan Teks dan Gambar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius, 1980

Hartoko, Dick.  Manusia dan Seni, Yogyakarta: Kanisius, 1984

Weij, P. A. van der. Filsuf-Filsuf Besar tentang Manusia. Yogyakarta: Kanisius, 2000



[1]   Harry  Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern ( Jakarta: PT. Gramedia, 1983), hlm. 23-24.
[2] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machielli sampai Nietzsche: Suatu Pengantar dengan Teks dan   Gambar  (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 116-117.
[3] P. A. Van der Weij, Filsuf-Filsuf Besar tentang Manusia (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm.85-86.
[4] P. A. Van der Weij, Filsuf-Filsuf Besar tentang……hlm 87.
[5] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machielli….hlm120.
[6] P. A. Van der Weij, Filsuf-Filsuf Besar…..hlm 84.
[7] Paul Edwards (ed), The Encyclopedia of Philosophy, vol 7 dan 8 (USA: Macmilan Inc, 1967), hlm 221.
[8] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat II (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm 60-61.
[9] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern dari Machielli….hlm 114-115.
[10] Dick Hartoko, Manusia dan Seni (Yogyakarta: Kanisius, 1984), hlm 39.

Kamis, 05 November 2015

Misteri Cinta (Le Mystere de L’ amour) Menurut Gabriel Marcel

Pengantar

            Perkembangan sejarah umat manusia, dengan segala kemajuan dan kemegahanya membawa peradaban manusia ke arah yang problematik. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi secara implisit menyimpan bahaya-bahaya yang dapat merendahan martabat manusia. Kerusakan martabat manusia akan membawa dampak yang negatif dalam membangun hubungan personal dalam komunitas manusia yaitu masyarakat. Dalam masyarakat sering ada tendensi bahwa orang yang kuat, baik secara ekonomi, politik, sosial sering memperalat orang yang lemah. Sesama sering dijadikan sebagai obyek dan bahkan sumber keuntungan. Dalam membangun relasi, cinta dianggap bukan sebagai hal yang sangat fundamental, bahkan muatan kata cinta itu menjadi kabur dan tidak dimengerti dengan baik. Gabriel Marcel dalam salah satu pemikiranya, yaitu misteri cinta mencoba membahas dan menemukan muatan kata cinta itu. Cinta adalah sesuatu hal yang sangat esensial dalam membangun dan membina hubungan antar pribadi.
Riwayat Hidup[1]           
Gabriel Marcel lahir di Paris pada tanggal 7 Desember 1889 sebagai anak tunggal dari sebuah keluarga yang acuh tak acuh pada agama Katolik. Bagi Marcel, menjadi anak tunggal sungguh-sungguh merupakan suatu cobaan yang menyengsarakan. Ibunya meninggal pada tanggal 15 Desember 1893, ketika ia masih berumur empat tahun. Baginya, peristiwa itu tidak hanya merupakan suatu momen pahit dalam sejarah hidupnya dimana ia merasa sangat kehilangan seorang yang sangat mencintainya dan yang ia cintai. Marcel hanya memiliki sedikit kenangan akan ibunya. Namun demikian, ia senantiasa merasakan kehadiran ibunya dalam hidupnya yang tetap menyertai dia. Marcel menyelesaikan pendidikan menengahnya di Lycee Carnot tahun 1905-1906, kemudian melanjutkan studi filsafat di universitas Sorbonne, Paris. Setelah lulus licence de philosophie (ujian mata kuliah filsafat) pada bulan oktober 1907, ia memperoleh aggregation de philosophie (hak dan ijin mengajar filsafat di sekolah menengah) pada tahun 1910, ketika ia berusia 20 tahun. Buku-buku Marcel kebanyakan merupakan catatan-catatan buku harian atau kumpulan ceramah atau artikel. Bukunya yang pertama diterbitkan tahun 1927 dengan judul, “Buku Harian Metafisis”. Pada tahun 1932 terbitlah bukunya yang berjudul “Perumusan dan Pendekatan-pendekatan Konkret Terhadap Misteri Ontologis”, tahun 1935 terbit “Ada dan Mempunyai”, tahun 1940 “Dari Penolakan kepada Panggilan”, tahun 1951 “Misteri Ada”, yang terbit sampai dua jilid, tahun 1951 “Manusia Melawan Kemanusiaan”, tahun 1955 “Manusia Sebagai Problem”, tahun 1959 “Kehadiran dan Kebakaan”, tahun 1964 “Martabat manusia”, tahun 1965 “Damai di Bumi”. Gabriel Marcel meninggal pada tanggal 8 Oktober 1973.
Misteri cinta (Le Mystere de L’ amour)
            Cinta pada dasarnya merupakan suatu tindakan yang keluar dari kemerdekaan seseorang untuk mencintai orang lain atau dirinya sendiri. Setiap orang mempunyai hak dan kebebasan untuk mencintai orang lain atau tidak. Dalam mencintai seseorang, ada unsur kondisi obyektif yang mengarahkan, menarik dan mendorong. Ketertarikan untuk mencintai pribadi seseorang muncul karena adanya pertemuan. Pertemuan itu akan membuahkan suatu kehadiran bersama (co-prersence). Kehadiran bersama itu menumbuhkan persekutuan (communion) sebagai wadah dalam menjalin hubungan pribadi. Hubungan inilah yang membisikkan suatu panggilan untuk mencintai orang lain.
            Mencintai selalu mengandung suatu himbauan (invocation) kepada sesama.[2] Dalam cinta, “aku” menghimbau kepada ‘engkau” supaya menjadi bersatu sebagai “kita”. Dan himbauan yang sama keluar juga dari “engkau” kepada “aku”. Karena itu pada pihak “aku’ perlu juga suatu kesediaan (disponibilite) untuk mendengarkan dan menjawab himbauan dari “engkau”. “Aku” harus bersedia untuk keluar dari egoismenya dan membuka diri bagi “engkau”.[3] Cinta bukanlah merupakan sebuah problem melainkan misteri. Sebagai misteri cinta pasti melibatkan secara aktif kedua belah pihak yang saling mencintai. Cinta merupakan pengalaman yang sifatnya intersubyektif. Maksudnya cinta merupakan pengalaman yang sifatnya antarpersonal, sangat pribadi dari dua orang yang mencintai.[4] Dalam hal ini sangat dibutuhkan personalisme.[5] Cinta demikian merupakan pengalaman personal dari setiap orang, entah siapa pun juga, yang terdorong untuk mencintai dan dicintai. Pengalaman ini merupakan sutau dimensi kehidupan yang tidak bisa dimasukki oleh orang lain. Cinta juga merupakan pengalaman hidup yang sifatnya eksistensial.[6]
            Menurut Marcel, mencintai dibagi kedalam dua bagian, yaitu mencintai sebagai kegiatan dan mencintai sebagai fenomen. Mencintai sebagai kegiatan merupakan suatu proses gerakan batin yang tidak kelihatan. Dalam mencintai terkandunglah suatu nuansa kontinuitas mencintai. Mencintai dalam hal ini dengan sendirinya mengatakan “engkau tidak akan mati”. Sesudah kematian orang yang dicintai, kehadiran berlangsung terus-menerus, sebab yang hilang hanyalah sesuatu yang kita miliki. Ilmu pengetahuan secara obyektif tidak akan mampu mengerti hal ini, sebab ilmu pengetahuan hanya menyentuh sebelah luar, hanya mencapai avoir (mempunyai) dan tidak sampai pada etre (ada).[7] Baru dalam tahap cinta, manusia sungguh-sungguh mencapai tahap ada karena ada adalah mencintai. Cinta kasih menyatakan juga bahwa orang yang dicintai tidak bisa mati karena cinta kasih berlangsung terus di seberang kubur.[8] Cinta dan harapan akan membentuk suatu persekutuan yang di dalamnya terdapat relasi personal dan pengalaman yang membentuk suatu kesatuan, walaupun seseorang diantara kedua belah pihak telah tiada.[9]
            Mencintai sebagai fenomen adalah sebagai proses gerakan batin yang tampak dalam fakta obyektif. Mencintai sebagai fakta berarti sesuatu telah terjadi, kelihatan dan bisa diamati. Maka dari itu kita dapat menempatkan kategori-kategori ruang dan waktu terhadap fakta mencintai itu: ada seseorang tertentu yang mencintai orang lain (dan itu bisa saya sendiri), artinya, fakta tersebut adalah obyektif, dan terhadap fakta yang obyektif, kita bisa membuat suatu deskripsi.[10]
           
Cinta merupakan sebuah misteri, maka hanya dengan melibatkan diri kedalam misteri itu sendiri sajalah yang bisa memahami misteri cinta. Cinta memang bisa dikenal. Tetapi hanya sebagai misteri oleh mereka yang terlibat dengan sang misteri itu sendiri. Sedangkan bagi mereka yang tidak terlibat, cinta tidak lebih dari pada sebuah problem, akibatnya mereka ini tidak bisa memahami misteri cinta. Cinta hanya mungkin terjadi bila ada pertemuan subyek. Jadi “aku” bertemu dengan “engkau” secara pribadi. Pertemuan antara aku-engkau inilah menghadirkan kita (nous). Denga kata lain, berkat pertemuan pribadi itulah kita dipersatukan satu sama lain. Cinta yang mengikat aku-engkau dalam hubunga kita secara pribadi itu akhirnya menghadirkan bagi kita suatu persekutuan. Cinta yang menyusun hubungan dan persekutuan itu sifatnya transenden. Ia mengatasi masing-masing pelaku atau subyek yang terlibat dalam persekutuan. Dalam setiap hubungan cinta, tidak ada relasi subyek-obyek atau obyek-subyek, yang ada hanya relasi antar subyek saja. Dalam setiap hubungan atau persekutuan kita bisa merasakan bahwa tarikan cinta itu bukanlah suatu tarikan psikis atau hasil dari ketertarikan fisik belaka, melainkan ketertarikan itu datang dari kedalaman kemanusiaan kita sendiri.[11]
            Gabriel Marcel juga merefleksikan relasi personalnya dengan Tuhan, yaitu relasi aku-Tuhan. Menurut Marcel, hanya cinta Allahlah yang sempurna dan sungguh kreatif. Cinta itulah yang membuat diriku mulai berada sebgai person. Allah memanggil aku dengan namaku.[12] Allah selalu menghimbau aku untuk selalu mencintai Dia. Cintailah Allah dan taatilah perintah-perintah-Nya (ama Deum et serva mandata).[13] Allah memanggilku untuk terlibat dalam dialog cinta yang bersifat abadi. Tidak mungkin Allah memulai relasi cinta hanya untuk sementara saja. Sifat keabadian berhubungan dengan hakekat cinta sejati.[14] 
Penutup
            Cinta merupakan sebuah pengalaman yang sifatnya eksistensial. Cinta sungguh menggerakkan sendi-sendi keberadaan kita sebagai manusia: berkoeksistensi dengan orang lain, karena cinta itu hadir dan menyentuh dasar eksistensi manusia, maka eksistensi manusia dengan sendirinya memakai dimensi baru. Dengan mencintai, manusia menjadi sadar misteri orang lain dan dirinya sendiri mulai tersingkap baginya. Mencintai merupakan perealisasian eksistensi manusia yang paling tinggi dan sempurna. Dengan mencintai, saya berarti keluar dari dunia individual saya sendiri (ex-sistere) dan kemudian berpartisipasi dalam dunia individual sesama dan cinta Allah yang abadi. (John D)

Daftar Pustaka
Bertens, K. Filsafat Barat Abad XX Jilid II Prancis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.1996.
Copleston, Frederick. A History of Philosophy, Volume IX, Maine de Biran to Sartre. London: Search Press. 1975.
Marcel, Gabriel. The Mystery of Being, Reflection and Mysteri, Volume I. New York: Regnery Gateway. 1978.
Hariyadi, Matias. Membina Hubungan Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius. 1994.
Snijders, Adelbert. Manusia Paradoks dan Seruan. Yogyakarta: Kanisius. 2004.
T. Kenneth. Gellagher. The Philosophy of Gabriel Marcel. New York: Fordham University Prress. 1975.





[1] Matias Haryadi,  Membina Hubungan Antar Pribadi, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 31-38.
[2] Matias  haryadi, Membina Hubungan …, hlm. 74.
[3] K .Bertens, Filsafat Barat Abad XX Jilid II Prancis, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm. 77.
[4] Matias, haryadi, Membina…, hlm. 75.
[5] Personalisme merupakan suatu sikap untuk mengikat diri dengan yang lain (engagement) dan mengadakan suatu perjumpaan eksistensial  (bukan saja kontak fungsional), perlulah kepercayaan serta cinta kasih satu kepada yang lain. P. A. Vander Weij, FIlsuf-filsuf Besar tentang Manusia, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 159.
[6] Cinta disebut pengalaman eksistensial karena pengalaman akan cinta itu menyangkut keberadaan atau eksistensi setiap manusia yaitu kenyataan. Ia bereksistensi (co-existere) bersama dengan orang lain. Matias, haryadi, Membina…, hlm. 75.
[7] P. A. Vander WEij, FIlsuf-filsuf…, hlm. 155.
[8] P. A. Vander WEij, FIlsuf-filsuf…, hlm. 159.
[9] Bdk: However, it is clear that he sees in personal relationship such as love in experiences sucs as hope keys to the nature of reality which are not available on the level of obyektyfying scientific thought. John loves Mary, but Mary has died, and science offers no assurance of her continued existence or of her reunion with John. For love and hope in union however there remains a communion, as “we”, which enables John to transcend the level of emerical evidence and to be confident in Mary’s continued existence and of their future reunion. Frederick  Copleston,  A History of Philosophy Volume ix, Maine de Biran to Sartre, (London: Search Press, 1975), hlm. 334.
[10] Matias, haryadi, Membina…, hlm. 76.
[11] Matias, haryadi, Membina…, hlm. 79.
[12] Adelbert  Snijders, Manusia Paradoks dan Seruan, (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 190.
[13] B. J. Marwoto  H. Witdarmono, Proverbia Latina,  (Jakarta: Buku Kompas, 2004), hlm. 13.
[14] Adelbert, Snijders, Manusia…, hlm. 190.

SEDEKAH MENURUT AGAMA ISLAM

1.PENGANTAR Sedekah merupakan ibadah sosial bagi umat Islam. Sedekah mempunyai kaitan yang erat dengan orang lain. Adapun alasan umat Isl...