Yesus dan para murid-Nya sering dicela oleh
orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Dalam bacaan hari ini, orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat mencela Yesus karena para murid-Nya sering makan dan minum
tidak seperti murid-murid Yohanes dan murid orang-orang Farisi lainnya yang
sering berpuasa dan sembahyang. Celaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat
dijawab oleh Yesus dengan dua cara. Pertama, Yesus mengumpamakan diri-Nya
sebagai mempelai laki-laki sedangkan para murid sebagai sahabat-sahabat-Nya. di kalangan Yahudi, pernikahan merupakan
sebuah pesta atau perjamuan besar. Jadi, sungguh tidak masuk akal apabila pada
hari pesta orang berpuasa. Kedua, Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai kain
yang baru dan anggur yang baru sementara orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat sebagai kain yang lama dan anggur yang lama. Yesus yang digambarkan
sebagai kain baru dan anggur yang baru pasti membawa sesuatu yang baru pula baik
pemikiran, cara pandang dan lain sebagainya. Sementara orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat tinggal dan mapan dalam kebiasaan dan adat-istiadat yang lama
serta sangat sulit menerima sesuatu yang baru. Oleh karena itu, celaan orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat menggambarkan penolakan mereka akan kehadiran Yesus. Sementara
jawaban Yesus kepada orang-orang Frisi dan ahli-ahli Taurat mau menyadarkan
mereka akan kedegilan hatinya. Mereka selalu menganggap diri paling benar.
Mereka tidak mau menerima sesuatu yang baru di luar kebiasaan dan adat-istiadat
mereka. Kemapanan akan kebiasaan dan adat-istiadat lama sering membutakan hati
setiap orang akan sesuatu yang baru. Orang yang tinggal dalam kebiasaan lama
sudah merasa nyaman dengan keberadaannya dan cenderung menolak hal-hal yang
baru dan bahkan menganggapnya sebagai ancaman. Hal-hal yang baru tidak selalu
membawa nilai negatif, justru sering membawa pembaharuan yang melahirkan kebaikan
dan kehidupan.
Kamis, 20 Oktober 2016
Rabu, 19 Oktober 2016
Menjadi Pelayan Anggur yang Baik (Yes 62:1-5; 1Kor 12:4-11; Yoh 2:1-11)
Saudara-saudari yang terkasih, Injil yang kita
dengar hari ini adalah perkawinan di Kana. Dalam pesta perkawinan ini Yesus
melakukan mukjizat yang pertama yakni mengubah air menjadi anggur. Ada satu hal
yang menarik dapat kita lihat dalam Injil hari ini yaitu perkataan pemimpin
pesta kepada mempelai laki-laki: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik
dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi
engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang”. Dari ungkapan pemimpin
pesta ini saya merefleksikan dan mencoba menganalogikan anggur yang baik adalah
Yesus sendiri sementara anggur yang kurang baik adalah para nabi. Dalam sejarah
keselamatan manusia. Allah pertama-tama mengutus para nabi kemudian mengutus
Anak-Nya sendiri. Kedatangan Yesus ke dunia membawa sukacita, kegembiraan
sebagaimana kegembiraan yang dirasakan oleh orang pada saat pesta. Semua
bersukacita. Sukacita itu dilukiskan oleh Yesaya dalam bacaan pertama.
Saudara-saudari terkasih, apa yang dapat kita tarik
dari bacaan hari ini sebagai modal dalam hidup kita? Kita harus menjadi pelayan
Anggur yang Baik yakni Yesus sendiri. Kita harus menghidangkan Yesus kepada
setiap orang agar semua orang mengalami sukacita. Bagaimana kita menghidangkan
Yesus kepada setiap orang? Kita mempunyai rupa-rupa-rupa karunia dan pelayanan
sebagaimana yang telah dikatakan oleh Paulus dalam suratnya yang pertama kepada
jemaat di Korintus. Di antara kita ada yang mempunyai karunia untuk
berkata-kata, menyembuhkan, menghibur, mengajar, melakukan mukjizat, berbahasa
roh dan lain sebagainya. Kita semua dipanggil dan digerakkan oleh roh yang sama
yakni Roh Tuhan Sendiri. Kita mempunyai karunia, bakat dan kelebihan
masing-masing. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk menghidangkan Anggur yang
Baik yakni Yesus sendiri dan menghadirkan-Nya kepada sesama sesuai dengan karunia yang kita
peroleh. Semoga kita menjadi pelayan yang baik yang menghadirkan Yesus kepada sesama
kita.
Dipanggil untuk Membangkitkan Orang Baik Fisik Maupun Rohani (1Raj 17:17-24; Gal 1:11-19; Luk 7:11-17)
Saudara-saudari terkasih, dalam bacaan hari
ini kita akan mendengar kisah pembangkitan orang mati. Adalah menarik
memperhatikan bacaan hari ini. Bacaan I mengisahkan bagaimana nabi Elia
membangkitkan anak seorang janda dari Sarfat dekat Sidon (1Raj 17:20-24). Kisah
ini mempunyai kemiripan dengan kisah nabi Elisa yang menghidupkan kembali anak
seorang perempuan di kota Sunem yang terletak di bagian selatan Galilea (2Raj
4:8-37). Bacaan II mengisahkan bagaimana Paulus bangkit dari penganiaya menjadi
pewarta iman akan Yesus Kristus. Sementara Injil menceritakan bagaimana Yesus
membangkitkan anak seorang janda di kota Nain.
Saudara-saudari terkasih, ketiga bacaan di
atas berkisah tentang kebangkitan. Dua kisah mengenai kebangkitan fisik (bacaan
I dan Injil) dan satu lagi berbicara mengenai kebangkitan rohani (bacaan II).
Mukzijat pembangkitan dari orang mati dalam bacaan I dan Injil kedengarannya
sama tetapi kalau kita lihat secara seksama khususnya dari tokoh pembuat
mukzijat nampak perbedaan. Tokoh dalam bacaan I adalah nabi Elia. Ia
membangkitkan anak laki-laki dari seorang janda yang terbaring dalam sebuah
ruangan dan tidak sedang dibawa dalam kubur. Elia sendirian di ruangan itu,
lalu ia berdoa kepada Allah kemudian membaringkan badannya tiga kali di atas
tubuh anak yang mati itu. Anak itu hidup kembali. Tokoh dalam Injil adalah
Yesus. Motivasi Yesus dalam membangkitkan anak janda di Nain ini bukan karena
iman si janda sebagaimana kisah pembangkitan hamba dari seorang perwira Romawi
melainkan karena belas kasih. Yesus menaruh belas kasihan kepada si janda yang
tidak mempunyai apa-apa lagi dalam hidupnya. Yesus mendekati usungan dari anak
yang meninggal itu dan menyentuhnya. Dalam arti tertentu Yesus sudah melanggar
peraturan dan adat Yahudi (bdk. Bil 19:11,16). Hal ini dilakukan-Nya karena
rasa belas kasihan sebab Dia adalah Tuhan atas peraturan-peraturan. Penyelamatan
Yesus terbuka bagi semua orang karena rasa belas kasihan-Nya. Kemudian Yesus
memerintahkan anak itu untuk bangkit: “Hai, anak muda, Aku berkata kepadamu,
bangkitlah! Kemudian anak itu bangun dan duduk serta mulai berkata-kata untuk
menunjukkan kepada orang bahwa ia benar-benar hidup. Yesus membangkitkan dengan
sabda-Nya, Ia tidak berdoa dan memohon kepada Tuhan sebagaimana dilakukan oleh
nabi Elia. Hal ini mau menunjukkan bahwa Yesus jauh lebih berkuasa dari nabi
Elia. Bacaan II mengisahkan Paulus yang bangkit dari seorang penganiaya jemaat
Kristen menjadi pewarta Yesus. Dalam hal ini Paulus mengalami kebangkitan
rohani, bangkit dari yang jahat kepada hidup yang lebih baik. Kisah
pembangkitan ini membawa sukacita, damai bagi mereka yang mengalaminya.
Saudara-saudari terkasih, ketiga bacaan di
atas mau menunjukkan kuasa Allah yang
menyelamatkan. Allah menyelamatkan melalui nabi Elia. Allah menyelamatkan
melalui Yesus. Allah menyelamatkan umat-Nya melalui pewartaan rasul-Nya Paulus.
Kita juga dipanggil oleh Allah untuk menyelamatkan sesama manusia melalui
perkataan dan tindakan. Kita juga dipanggil untuk membangkitan orang secara
fisik (bukan harus membangkitakn orang mati tetapi membantu orang yang
kesusahan dari segi materi, memberi makan orang lapar, memberi tumpangan kepada
gelandangan dan lain-lain) dan rohani (membangkitkan pengharapan orang yang
putus asa, menghibur orang yang berada dalam kesedihan, mengunjungi orang sakit
dan lain-lain). Semoga kita menjadi alat Tuhan dalam menyelamtakan umat-Nya.
“Apa yang Kau Lakukan untuk Saudaraku yang Paling Hina Ini, Kamu Melakukannya untuk Aku” (Am 6:1a.4-7; 1Tim 6:11-16; Luk 16:19-31)
Saudara-saudari
terkasih, dari zaman Yesus, bahkan sebelumnya, sampai sekarang dan mungkin pada
masa yang akan datang, orang miskin dan kaya
selalu ada. Mereka hidup berdampingan. Hari ini, kita akan mendengar
sebuah perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin. Perumpamaan ini
hanya dituliskan dalam Injil Lukas.
Saudara-saudari terkasih, ketika di
alam maut, orang kaya meminta belas kasih dari Abraham karena dia sangat
menderita tetapi Abraham menolaknya sebab semasa hidupnya dia juga tidak
memberikan belas kasih kepada orang miskin. Selain itu, dia juga meminta agar
Abraham mengutus Lazarus supaya mengingatkan para saudaranya yang masih hidup
agar mereka juga kelak tidak menderita seperti dia. Namun, Abraham juga
menolaknya, sebab mereka pasti mengerti dan mengetahui apa yang telah ditulis
dalam kitab Taurat dan juga para nabi. Mereka harus melaksanakannya dalam hidup
sehari-hari supaya mereka selamat, kalau tidak mereka juga akan menerima nasib
yang sama.
Saudara-saudari yang terkasih, di
tengah-tengah kita juga pasti banyak orang miskin dan menderita. Mereka
bukanlah orang-orang yang terkutuk tetapi mereka adalah saudara kita yang
membutuhkan bantuan, cinta dan belas kasih kita. Janganlah kita memeras dan
memperalat mereka demi kesenangan dan ketenangan kita supaya kita tidak celaka
(Am 6:1a.4-7), tetapi kita harus menjauhi semua itu dan hidup dalam keadilan,
ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan (1Tim 6:11) Apa yang sudah
kita buat kepada mereka? Mungkin kita mengaku diri miskin tetapi masih banyak
orang yang lebih miskin dari kita di dunia ini. Yesus mengajak dan mengajarkan
kita supaya memberi makan kepada orang yang lapar, memberi minum kepada orang
yang harus, memberi tumpangan bagi orang asing, memberi pakaian bagi orang yang
telanjang, melawat orang sakit, mengunjungi orang yang dipenjara, sebab apa
yang kita lakukan bagi mereka ini, kita melakukannya untuk Yesus. Inilah juga salah
satu yang dituntut oleh paus Fransiskus dari kita umat Katolik selama Tahun Kerahiman
Ilahi ini. Kalau kita telah melakukannya maka kita akan masuk ke dalam hidup
yang kekal tetapi kalau tidak kita akan dicampakkan ke dalam siksaan yang kekal
(Mat 25:31-45). Yohanes dari Salib berkata: “Pada malam kehidupan kita, kita
akan diadili atas dasar cinta”.
Kejarlah Kebijaksanaan! (Am 8:4-7; 1Tim 2:1-8; Luk 16:1-13)
Saudara-saudari
terkasih, kita pasti mengenal dan membutuhkan uang bahkan bekerja keras untuk
mencarinya demi pemenuhan kebutuhan hidup. Uang baik adanya kalau dipergunakan
dengan baik. Akan tetapi banyak juga orang yang telah disesatkan oleh uang (marrara do simalolong ni jolma mamereng
hepeng). Orang yang paling sering berhubungan dengan uang adalah para
bendahara atau ekonom. Hari ini, dalam bacaan Injil, kita akan mendengar
pengajaran Yesus melalui suatu perumpamaan, yakni perumpamaan tentang bendahara
yang tidak jujur (Luk 16:1-13).
Saudara-saudari terkasih, melalui
perumpamaan bendahara yang tidak jujur ini, Yesus mau mengajarkan para
murid-Nya akan tiga hal yakni, bijaksana dalam menggunakan harta kekayaan,
setia dalam hal-hal yang kecil dan menaruh loyalitas kepada Yesus sendiri. Sikap
bijaksana atau cerdik sangat ditutuntut oleh Yesus dari para murid-Nya dalam
mengelola harta kekayaan. Para murid harus mengikat persahabatan dengan mamon
yang tidak jujur. Artinya, harta duniawi itu penting asal dipergunakan dengan
baik dan bijaksana. Tuntutan Yesus ini bisa juga dihubungkan dengan perintah
Yesus kepada para murid agar mereka bersikap cerdik seperti ular dan tulus
seperti merpati (Mat 10:16). Yesus memuji bendahara yang tidak jujur karena
bendahara itu telah meniadakan upahnya agar ia bisa diterima oleh orang lain
ketika tuannya akan memecatnya. Bendahara itu mencari solusi akan krisis di
masa depan. Ia tidak putus asa tetapi mencari solusi yang tepat dengan
menggunakan akal budinya. Sikap setia juga sangat dituntut oleh Yesus dari para
murid-Nya, sebab siapa yang setia dalam hal atau urusan kecil ia juga setia
dalam hal-hal besar. Jika para murid tidak setia dan benar dalam mengelola
harta duniawi, mereka tidak dipercayakan akan harta yang sesungguhnya.
Selanjutnya, para murid juga diminta supaya menaruh loyalitas kepada Yesus,
sebab seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Jika para murid
menempatkan mamon dalam tempat yang pertama otomatis Tuhan ditempatkan dalam
posisi yang kedua. Para murid harus mengabdi kepada Tuhan dan menempatkan-Nya
pada posisi pertama.
Saudara-saudari terkasih, sebagai
pengikut Yesus, sikap bijaksana dan tulus sangat dituntut dari kita, khususnya
dalam mengelola harta benda atau kekayaan kita sebagaimana juga diungkapkan
dalam bacan pertama (Ams 8:4-7). Dengan mempunyai kebijaksanaan, kita akan
mampu mengerti perkara-perkara surgawi. Harta kekayaan tidak boleh kita jadikan
sebagai sarana untuk menindas orang yang lemah. Harta kekayaan juga tidak boleh
kita jadikan sebagai tuan dalam hidup kita tetapi kitalah yang menjadi tuan
atas harta yang kita miliki. Selain itu, kita juga dipanggil untuk aktif
mencari solusi dikala kita menghadapi masalah atau krisis dalam hidup kita,
sebab kita dianugerahi akal budi, hati, kemampuan untuk bertindak dan juga
pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4). Salah satu ciri pengikut Yesus adalah
tidak gampang menyerah. Mari bangkit mancari solusi dan menaruh keyakinan kita
kepada Allah bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita tetapi akan dengan
rela hati membantu kita dengan berbagai cara ketika mengalami krisis dalam
hidup, iman, keluarga, karya dan lain-lain.
Langganan:
Postingan (Atom)
SEDEKAH MENURUT AGAMA ISLAM
1.PENGANTAR Sedekah merupakan ibadah sosial bagi umat Islam. Sedekah mempunyai kaitan yang erat dengan orang lain. Adapun alasan umat Isl...
-
PENDAHULUAN Dalam Roma 5:1-11 Paulus sangat menekankan kasih Allah yang menyelamatkan melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Dengan demi...
-
A. PENDAHULUAN Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beraneka ragam suku, budaya, bahasa dan kaya akan seni. Oleh karena itu setia...
-
I. Pendahuluan Kitab Suci merupakan salah satu sarana untuk mengenal hidup Yesus Kristus dan karya-karya-Nya. St. Hieronimus berkata: ...
-
1. Pengantar Kitab kebijaksanaan bin Sirakh atau amsal-amsal bin Sirakh ditulis sekitar tahun 180 SM (abad II SM), oleh Yesus bin ...
-
A. Pengantar Persoalan Trinitas adalah suatu perdebatan sejak zaman patristik. Pada zaman ini muncul para bapa Gereja den...





