Kamis, 20 Oktober 2016

Mari Memperbaharui Diri Secara Terus-menerus Supaya Seperti Bapa Berbelas Kasih! (Yos 5:9.10-12; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32.)



Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini kita akan mendengar tiga pribadi dan kepribadian, yakni seorang bapa yang berbelas kasih, anak bungsu yang menyadari kesalahannya dan anak sulung yang iri hati. Ketiga pribadi dan kepribadian ini menjadi pelajaran yang berharga untuk kita sebagai orang kristen khususnya di masa prapaska ini. Apa yang dapat kita pelajari?
Bapa yang berbelas kasih adalah gambaran Tuhan yang senantiasa berbelas kasih kepada umat-Nya. Ia tidak mengingat-ingat kesalahan umat-Nya. Cinta-Nya tidak pernah pudar karena dosa-dosa kita. Ia malah berlari dan bersuka cita melihat umat-Nya yang mau menyesali kesalahan dan berbalik kepada Dia.
Anak bungsu yang menyesali dosa-dosanya adalah gambaran manusia yang rapuh dan yang mau memperbaharui diri. Dosa identik dengan manusia tetapi bukan berarti harus berdosa. Apabila kita sudah berdosa janganlah mengulangi hal yang sama dan mari menyesali dan memperbaharui diri terus-menerus. Itulah tugas kita sebagai orang Kristen. Bapa yang berbelaskasih selalu membuka tangan untuk kita yang mau bertobat.
Sementara anak sulung yang iri hati adalah gambaran manusia yang selalu iri hati kalau melihat ada orang yang berbalik dari dosa-dosanya. Sering terjadi, mungkin tidak kita sadari, kita menjadi penghalang bagi orang yang mau bertobat. Terlalu gampang kita memberi “cap” kepada seseorang yang akhirnya menyurutkan semangat dari orang tersebut.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita berlaku seperti Bapa yang berbelas kasih dalam hidup kita khususnya dalam berelasi di dalam keluarga, sesama dan semua manusia, sebab Bapa juga berbelas kasih kepada kita. Marilah kita juga berlaku seperti anak bungsu yang mau menyesali dosa dan bertobat. Janganlah kita iri hati kepada sesama kita yang mau bertobat tetapi marilah kita saling membantu agar semua orang mengalami belas kasih dan cinta Allah. 


                                   

Tuhan, Ikutkah Saya Diselamatkan? (Yes 66:19-21; Ibr 12:5-7.11-13; Luk 13:22-30)

Saudara-saudari terkasih, Yesus dalam karya pelayanan-Nya kerap disuguhi pertanyaan oleh para murid, orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, orang banyak dan bahkan orang yang tidak dikenal atau orang yang tidak disebutkan namanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Yesus kerap juga tidak dijawab-Nya secara langsung. Yesus sering menampilkan perumpamaan-perumpamaan, metafora bahkan mengajukan pertanyaan balasan. Dalam bacaan Injil hari ini, seseorang yang tidak disebut namanya bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus tidak menjawab secara langsung, tetapi menampilkan empat metafora: “pintu yang sesak” (ay. 24), “pintu yang ditutup” (ay. 25-27) , “perjamuan Kerajaan Allah” (ay. 28-29) dan “yang terakhir menjadi yang terdahulu” (ay. 30).
            Saudara-saudari terkasih, untuk dapat memperoleh keselamatan atau hidup kekal seseorang harus berjuang melalui “pintu yang sesak”. Kiasan “pintu yang sesak” menggambarkan jalan masuk yang tidak gampang dilalui tetapi sulit, butuh perjuangan dan pengorbanan. Keselamatan atau hidup kekal akan diperoleh oleh seseorang kalau dia mempunyai daya juang dan mau berkorban. Inilah jalan yang ditawarkan oleh Yesus. Selain berjuang, seseorang juga sangat membutuhkan rahmat Allah, sebab keselamatan tidak hanya diperoleh dari perjuangan pribadi tetapi juga rahmat dan belas kasih Allah sendiri. Kiasan “pintu yang ditutup” menggambarkan peran Allah dalam menentukan siapa yang akan diselamatkan atau dimasukkan ke dalam kehidupan kekal. Banyak orang berjuang masuk melalui pintu yang sempit, tetapi mereka tidak akan dapat, sebab Allah sendiri yang membukakan dan menutup pintu Kerajaan Allah. Ia akan membukakan pintu bagi orang yang berkenan kepada-Nya dan menutup pintu bagi mereka yang melakukan kejahatan. Barang siapa yang mengenal dan melaksanakan perintah Allah akan memperoleh keselamatan, tetapi barang siapa yang hanya mengenal dan mendengarkan perintah Allah tetapi tidak melakukannya akan dicampakkan ke dalam nereka.
            Suasana Kerajaan Allah dilukiskan dengan “perjamuan kerajaan”. Di sana orang-orang yang telah diizinkan masuk akan bersuka cita. Sementar suasana neraka dilukiskan dengan ratapan dan kertak gigi. Di sana, orang-orang yang tidak dizinkan masuk ke dalam Kerajaan Surga menerima hukuman kekal. Ratapan melukiskan kesedihan dan kertak gigi menggambarkan kemarahan dan kebencian. Dalam perjamuan surgawi, setiap orang akan duduk dan makan bersama. Mereka yang duduk dan makan bersama berasal dari seluruh dunia. Hal ini juga sudah dinubuatkan oleh Yesaya dalam bacaan pertama (Yes 66:19-21). Sifat universalitas perjamuan surgawi dilukiskan oleh mereka yang datang dari empat penjuru bumi (Timur, Barat, Utara dan Selatan). Perjamuan surgawi terbuka bagi setiap orang bukan hanya kepada orang Yahudi dan orang yang menganggap diri paling suci, unggul, utama dari orang-orang lain, melainkan juga bagi orang yang dianggap hina, dinomor duakan dan najis. Barang siapa meninggikan dan menyombongkan diri akan direndahkan, tetapi siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan. Itulah yang dimaksud dengan “yang terakhir menjadii yang terdahulu”.
            Saudara-saudari terkasih, pertanyaan, “Tuhan, sedikit sajakah orang diselamatkan?” dapat kita ganti dengan pertanyaan, “Tuhan, ikutkah saya diselamatkan?” Keselamatan kekal adalah urusan personal bukan komunal, tidak tergantung kepada orang tua, keluarga, suku atau budaya tertentu bahkan agama tertentu. Supaya saya selamat, saya harus berjuang, bekerja keras, berkorban bahkan sampai terluka dan menderita. Allah akan memperingatkan, menghajar dan menguji orang yang dikasihi-Nya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (Ibr 12:6). Ujian, peringatan atau penderitaan pada waktu diberikan akan mendatangkan dukacita, tetapi kemudian ia akan menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya (Ibr 12:11). Oleh karena itu, saya harus kuat dan gigih supaya tidak putus asa dan jatuh (bdk. Ibr 12:12-13). Selain berjuang, saya juga harus menyadari diri sebagai makhluk yang lemah di hadapan Tuhan, yang senantiasa membutuhkan rahmat dan belas kasih. Usaha manusia saja pasti tidak cukup, sebab keselamatan itu tergantung pada rahmat dan belas kasih Allah.

           

Kotbah Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah (Bil 6:22-27; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21)



Saudara-saudari terkasih, Santa Perawan Maria Bunda Allah merupakan salah satu dogma Gereja tentang Maria. Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah ini selalu dirayakan pada tanggal 1 januari sebagai penghormatan Gereja terhadap Bunda Maria.
          
  Saudara-saudari terkasih, sudah sejak zaman perjanjian lama Allah menggunakan orang-orang tertentu yang layak bagi-Nya sebagai alat untuk menyampaikan keselamatan kepada umat-Nya. Dalam bacaan I yakni dari kitab Bilangan 6:22-27, Allah berfirman kepada Musa untuk berbicara kepada kaum Harun dan anak-anaknya. Allah memberkati kaum Israel dan melindungi mereka. Allah menyinari mereka dengan wajah-Nya dan member mereka kasih karunia. Tuhan menghadapkan wajah-Nya  kepada mereka dan member mereka damai sejahtera. Sementara dalam Injil, Allah berfirman kepada Maria melalui malaikan Gabriel. Maria penuh dengan kasih Allah dan ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan anak itu adalah Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya dan Ia akan meenjadi raja atas kaum keturunn Yakub  sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan. Demikianalah Allah memanggil Musa untuk menjadi alat-Nya dalam menyampaikan keselamatan kepada umat-Nya Israel. Hal yang sama juga, Maria dipanggil oleh Allah sebagai alat untuk mengandung dan melahirkan Yesus sebagai juru selamat manusia. Hal ini diulangi oleh paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia sebagaimana kita dengar dalam bacaan II. Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hokum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hokum Taurat supaya kita diterima menjadi anak.
           
Saudara-saudari terkasih adapaun persatua Maria dengan Yesus Puteranya dalam karya penyelamatan terungkap sejak saat Kristus dikandung oleh Santa Perawan hingga wafat-Nya. Pertama-tama ketika Maria berangkat dan bergegas mengunjungi Elisabet dan diberi ucapan salam bahagia olehnya karena Maria beriman akan keselamatan yang dijanjikan dan ketika Peendahulu melonjak  dalam rahim ibu-Nya. Kemudian pada hari kelahiran Yesus, ketika Bunda Allah penuh kegembiraan menunjukkan kepada para gembala dan para majus Puteranya yang sulung, yang tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya. Ketika ia di kenisah, sesudah menyerahkan persembahan kaum miskin kepada Tuhan, ia mendengarkan Simeon sekaligus menyatakan bahwa Puteranya akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan dan bahwa suatu pedang akan menembus jiwa Bunda-Nya supaya pikiran hati banyak orang menjadi nyata. Ketika orang tua yesus menjadi sedih hati mencari Putera mereka yang hilang, mereka menemukan-Nya di kenisah sedang berada dalam perkara-perkara Bapa-Nya, dan mereka tidak memahami apa yang dikatakan oleh Putera mereka. Akan tetapi Bunda-Nya menyimpan semua itu dalam hatinya dan merenunngkannya. Demikianlah Santa Perawan melangkah maju dalam peziarahan iman. Dengan setia ia mempertahankan persatuannya dengan Puteranya hingga di salib, ketika ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekat-Nya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dahsyat bersama dengan puteranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya ia menggabungkan diri dengan kurban-Nya dan penuh kasih menyetujui persembahan kurban yang dilahirkannya. Dan akhirnya Yesus Kristus juga menjelang wafat-Nya di kayu salib, ia dikaruniakan kepada murid untuk menjadi Bundanya dengan kata-kata ini: “Wanita, inilah anakmu”.
           
Saudara-saudari terkasih, sehubungan dengan penjelmaan Sabda Ilahi, Santa Perawan Maria sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan penyelenggaraan Ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus Ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati dan menjadi hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa  di kenisah serta dengan ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaaatannya,, iman, pengharapan, serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membarui hidup adikodrati jiwa-jiwa. Oleh karena itu, dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita.
            Maria adalah bunda Kehidupan yang membawa kita kepada kehidupan. Ia sering disebut sebagai Hawa yang baru, ibu dari segala yang hidup. Dengan menjadi Bunda Allah, kita juga dijadikan menjadi Anak-anak Allah. Kita dengan Yesus sama-sama memanggil Allah sebagai Bapa. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: Ya Abba, Ya Bapa!”. Jadi kamu atau kita bukan lagi hamba, melainkan anak, jika kita adalah anak maka kita juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. Semoga Maria yang adalah Bunda Allah mendoakan kita anak-anaknya supaya bersatu dengan Anak-Nya Yesus. Amin. 



Maria Ibu Kita (Yoh 19: 23-27)

Saudara-saudari terkasih, Injil yang baru saja kita dengar merupakan bagian dari kisah penyaliban Yesus. Ada tiga adegan dalam kisah penyaliban Yesus ini, pertama, Yesus disalibkan, kedua para prajurit membuang undi atas jubah Yesus dan ketiga adalah penyerahan Maria oleh Yesus kepada murid yang dikasihi. Pokok permenungan kita sore ini adalah adegan yang ketiga.
Saudara-saudari terkasih, ketika saya merenungkan dan membaca bacaan ini, timbul pertanyaan dalam hati saya. Kenapa Yesus menyerahkan Maria, ibu-Nya kepada Yohanes sementara di situ ada saudara ibu-Nya dan mungkin juga keluarga yang lain? Dalam budaya Yahudi sangat tidak biasa  menyerahkan pemeliharaan orang tua kepada orang lain jika masih ada keluarga  ketika seseorang mau meninggal. Pertanyaan inilah yang saya jawab dalam permenungan saya, dan inilah yang hendak saya bagikan sebagai bahan permenungan untuk kita.
Penyerahan Maria oleh Yesus kepada Yohanes memuat beberapa arti simbolis. Pertama, Yesus sungguh tahu, bahwa kematian-Nya di salib akan membuat murid-murid-Nya terpukul dan tercerai berai. Oleh karena itu, mereka membutuhkan sosok seorang ibu untuk merangkul, memelihara dan menyatukan mereka. Maria menjadi ibu bagi para murid dan para murid menjadi anak bagi Maria.
          Kedua, Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes bisa juga kita mengerti secara implisit bahwa Yesus juga menyerahkan Maria kepada Gereja secara universal sebagai bundanya. Gereja dalam perjalanan sejarahnya mengakui Maria sebagai bundanya. Maria selalu mendampingi perjalanan Gereja sampai detik ini. Sebagai penghormatan kepada Maria, Gereja mengeluarkan empat dogma (Maria Bunda Allah, Maria Tetap Perawan, Maria dikandung tanpa Noda dan Maria diangkat ke surga), dan itu kita tahu, ada beberapa peringatan dan pesta yang kita rayakan dalam liturgi, ada begitu banyak gelar yang diberikan kepada Maria (bunda penolong, penghibur dan lain-lain). Itu semua lahir dari pengalaman Gereja bersama bunda Maria dalam membangun iman dan menyebarkan Kerajaan Allah. Gereja tidak bisa lepas dari Maria, karena dalam arti tertentu karena Marialah maka Gereja ada. Gereja harus banyak belajar dari Maria.

           Ketiga, penyerahan Bunda Maria oleh Yesus kepada Yohanes dapat juga kita mengerti bahwa dalam penyerahan itu yohanes mewakili kita masing2. Oleh karena itu, ketika Yesus menyerahkan bunda Maria kepada Yohanes, Ia juga menyerahkan bunda Maria kepada kita sebagai ibu. Sebagai manusia jasmani kita pasti  dan sudah merasakan bagaimana peran ibu kita dalam perjalanan hidup kita masing2. Sebagai manusia rohani, kita juga pasti membutuhkan bimbingan dari seorang ibu, itulah Maria yang kita sebut sebagai bunda kita. Mengapa kita harus membutuhkan seorang ibu (rohani)? Bunda Maria kita butuhkan dalam perjalan hidup, karena dialah teladan dan model kita dalam beriman. Selain itu, kita juga sangat membutuhkan sosok seorang ibu rohani karena dalam arti tertentu kita juga dipanggil untuk menjadi seorang ibu, yakni memelihara jiwa-jiwa yang dipercayakan kepada kita, baik sebagai pastor, pastor paroki, suster, frater, ibu rumah tangga, bapak keluarga dan sebagainya. Yang menjadi pertanyaan apakah kita menjadi pemersatu, pemelihara yang siap merangkul semua yang dipercayakan kepada kita? Apakah kita bisa seperti Maria yang menjadi ibu bagi para murid ketika mereka merasa terpukul dan tercerai berai karena kematian Yesus?
Saudara-saudari terkasih, ada banyak teladan yang bisa kita pelajari dari bunda Maria. Tetapi ada satu saya rasa paling menarik untuk kita hidupi dan ini sudah sering kita dengar, yakni kerendahan hati yang tulus dan total. Kerendahan hati ini bisa saya sebut sebagai warisan budaya hamba dan ini saya pertentangkan dengan warisan budaya raja sebagaimana yang dihidupi oleh budaya  Batak Toba dan mungkin juga budaya-budaya yang lain baik nias, simalungun, karo, dayak, flores, jawa, tionghoa (saya yakin tidak ada diantara suku yang sebut tadi yang mengajarkan masyarakatnya menjadi menjadi seorang hamba). Ketika malaikat Gabriel mengunjungi Maria perihal terkadungnya Yesus, ia hanya berkata: “aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” dan itu dinyatakan oeh Maria sepanjang perjalanan hidupnya. Ini adalah warisan yang sangat berharga bagi kita. Kita diwarisi budaya hamba bukan budaya raja. Kita diwarisi budaya pelayan bukan budaya tuan. Hal ini juga sangat ditekankan oleh Yesus kepada murid-Nya: “ hendaklah kamu menjadi pelayan satu sama lain” dan ini dihidupi oleh Gereja sampai sekarang. Paus selalu menyebut diri sebagai hamba dari hamba Allah. Dalam ordo kita juga, pemimpin disebut sebagai minister, pelayan persaudaraan, dan kita sebagai saudara sangat ditekankan oleh St. Fransiskus agar menjadi pelayan bagi sesama. Itulah tugas kita bukan untuk menjadi tuan atau raja, dan contoh yang tepat untuk menghidupi ini adalah bunda Maria.

        Saudara-saudari yang terkasih, Bunda Maria adalah ibu kita dan kita adalah anak-anaknya. Kalau kita mengaku diri sebagai anak, apa dan bagaimana relasi kita selama ini kepada bunda Maria? Sungguhkah kita menjadi anak yang sejati bagi bunda Maria atau malah kita menjadi “anak durhaka”? Mari mengakrabkan diri kepada bunda Maria secara khusus dalam bulan ini dan juga dalam hidup kita sehari-hari. Kita sangat membutuhkan sosok dan teladannya dalam pelayanan kita masing-masing. Amin.




Kedegilan Hati Membawa Orang Kepada Pembenaran Dan Kecongkakan Diri (Luk 5 : 33-39 )



Yesus dan para murid-Nya sering dicela oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.  Dalam bacaan hari ini, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mencela Yesus karena para murid-Nya sering makan dan minum tidak seperti murid-murid Yohanes dan murid orang-orang Farisi lainnya yang sering berpuasa dan sembahyang. Celaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dijawab oleh Yesus dengan dua cara. Pertama, Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai mempelai laki-laki sedangkan para murid sebagai sahabat-sahabat-Nya.  di kalangan Yahudi, pernikahan merupakan sebuah pesta atau perjamuan besar. Jadi, sungguh tidak masuk akal apabila pada hari pesta orang berpuasa. Kedua, Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai kain yang baru dan anggur yang baru sementara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sebagai kain yang lama dan anggur yang lama. Yesus yang digambarkan sebagai kain baru dan anggur yang baru pasti membawa sesuatu yang baru pula baik pemikiran, cara pandang dan lain sebagainya. Sementara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tinggal dan mapan dalam kebiasaan dan adat-istiadat yang lama serta sangat sulit menerima sesuatu yang baru.  Oleh karena itu, celaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menggambarkan penolakan mereka akan kehadiran Yesus. Sementara jawaban Yesus kepada orang-orang Frisi dan ahli-ahli Taurat mau menyadarkan mereka akan kedegilan hatinya. Mereka selalu menganggap diri paling benar. Mereka tidak mau menerima sesuatu yang baru di luar kebiasaan dan adat-istiadat mereka. Kemapanan akan kebiasaan dan adat-istiadat lama sering membutakan hati setiap orang akan sesuatu yang baru. Orang yang tinggal dalam kebiasaan lama sudah merasa nyaman dengan keberadaannya dan cenderung menolak hal-hal yang baru dan bahkan menganggapnya sebagai ancaman. Hal-hal yang baru tidak selalu membawa nilai negatif, justru sering membawa pembaharuan yang melahirkan kebaikan dan kehidupan.

SEDEKAH MENURUT AGAMA ISLAM

1.PENGANTAR Sedekah merupakan ibadah sosial bagi umat Islam. Sedekah mempunyai kaitan yang erat dengan orang lain. Adapun alasan umat Isl...